Heny Muter and The Prisoner of LP Cipinang

Heny Muter and The Prisoner of LP Cipinang
Gambar Heny

Minggu, 28 November 2010


                                    Sudah, sudah… kita kembali ke topic awal kita… haha… pak Daendels lalu menyuruh kita mencatat..huhu bosan deh.aku melirik ke arah Hana. Mata kami bertumbukan. Tapi aku segera mengalihkan perhatianku menuju Pak Daendels yang menyebalkan itu… tetapi sepertinya sekarang lebih menyenangkan Pak Daendels deh daripada Hana.. How about you? Sok banget ya. Aku segera buru – buru mencatat. Huh… malas banget! Pikiranku kembali ke kejadian tadi. Mengapa aku tidak menolak saja tentang lomba freak itu. Kan aku jadi bias didantikan orang lain. Apa aku datang saja ke Pak Bambam dan meminta agar aku diganti? Tapi, ada sesuatu yang membuatku berat untuk mengatakan itu pada Pak Bambam. Wuah!!!!!!!!! Aku stress!
                 “ Anak – anak! Kumpulkan semua catatan kalian!”. Pak Daendels membuyarkan lamunanku. Mati aku… aku belum mencatat satu nomorpun.. huaaaa
             “ tunggu dong pak! Belom selesai nih!” teriak Ndre yang diikuti demua teman sekelas yang protes akan perbuatan Pak Daendels.. sumpah, aku sebal banget sama dia! Aku lalu dengan terburu – buru mencatat seasalku.
                         Aku segera memberikan catatanku ke Pak Daendels. Setelah itu, aku langsung berlari menuju mejaku. Aku menghempaskan diriku ke kursi tersebut. Hana melihatku sesaat, ia terhenti. Apakah ia akan meminta maaf padaku?   Ya, aku mengharapkannya. Tapi, ia segera meninggalkanku sambil tertawa. Ha? Ada yang salah denganku ya? Lalu mulai anak – anak lain silih berganti melihatku sambil tertawa – tawa. Lho? What’s wrong with me? Manuel terus memperhatikanku dari tadi. Kucolek Manuel, dan kutanyakan padanya,
                 “ eh, ada apa sih?” tanyaku. Manuel tak menjawab. Ia masih memperhatikan BAGIAN BELAKANGKU. Aku segera meraba –raba pundakku. Wakh! Ada selembar kertas tertempel si punggungku. Tulisannya,’Anak Monyet’. Aku marah dan mulai mencari tahu siapa pelakunya. Muncul dalam pikiranku bahwa Hanalah yang melakukannya. Kok bisa? Ya, dia yang tertawa duluan. Berarti, dia yang melakukannya! Sial! Aku tak akan lengah… aku buru- buru menghampiri Hana. Mataku tertuju padanya. Hatiku panas. Aku langsung memukul mejanya.
                “ kalo marah ga usah gitu juga dong! Pake nempel – nempelin kertas ke pundakku lagi. Sial kau!” kataku hampir menangis.
              “eh, ngomongnya slow dong! Lagian kamu ngomong apasih? Nuduh – nuduh aja! Apa buktinya mana?” katanya tak kalah sengitnya denganku. Aku langsung pergi karena Pak Daendels menyuruh kami segera diam. Mengganggu orang berantem aja… aku balik ke mejaku. Manuel segera menegurku yang sepertinya akan menittikkan air mata si atas meja. Aku membanting bukuku. Ku tenggelamkan wajahku dibalik tanganku. Enggak, aku ga nangis kok. Cuma mengantuk. Jadi aku tidur – tiduran gitu deh. Gak mungkin kan, aku menangis? Aku kan anak yang kuat! Hehe.
         Istirahat menghampiri sekolah Saint Francist II.aku senang sekali..... aku lalu berlari cepat -cepat ke kantin..